citengah sumedang

CITENGAH, DARI “NIAGARA” SUMEDANG KE RUMAH BELANDA

CITENGAH, DARI “NIAGARA” SUMEDANG KE RUMAH BELANDA

Bukit yang  berhutan lebat itu menyimpan daya tarik. Mungkin
puluhan tahun lalu sepasang tuan dan nyonya Belanda  menghabiskan sore
di rumahnya dengan menatap bukit-bukit di sekelilingnya.
Rumah tersebut diperkirakan rumah orang Belanda, dilihatdari sisa
fondasi rumah, tegel, dan bata yang antik.
Fondasi rumah menunjukkan rumah tersebut  besar. Diperkirakan ada
tiga rumah Belanda di Bukit Margawindu tersebut. Bukit itu sudah sejak
lama memiliki perkebunan teh.
Menurut Ade, penampung pucuk teh yang  kini membangun rumah di
atas fondasi rumah Belanda itu, luas perkebunan teh mencapai 500
hektar, tetapi yang diusahakan rakyat hanya 150 hektar.
Penduduk mengelola perkebunan dengan menyewa lahan dari
desa sejak sekitar tahun 1994,
saat perkebunan itu ditinggalkan PT Cakra, pengelola sebelumnya.
Kini, di puncak bukit terdapat empat rumah. Seluruhnya milik Momoh
(73) dan anak-anaknya. Momoh adalah orang pertama yang memberanikan
diri tinggal di daerah ini tujuh tahun lalu.
“Awalnya saya lihat banyak sekali remaja dari Sumedang, Garut,
Jakarta, Cirebon, maupun Indramayu datang  camping di daerah itu.
Kadang cuma lima orang, tapi bisa juga  ratusan orang. Kalau Sabtu dan
Minggu puncak ini ramai sekali,” tutur Momoh.
Di daerah itu masih banyak binatang liar dari hutan di sekitarnya.
Hal ini menjadi  pesona wisata  tersendiri bagi para pemberani.
Selain itu, di daerah itu hanya
air terjun empat tingkat Cigorobog yang bisa dinikmati. Padahal,
menurut Agus (36), kepala dusun di Desa Citengah, ada 17 air terjun
lain di dalam hutan sekitar Citengah, yaitu Air  Terjun Kancana,
Ciparahu, Cisoka, dan Cimecek.
Air Terjun Cimecek memiliki ketinggian 25-30 meter, sedangkan Air
Terjun Ciparahu berbentuk huruf U.
“Kalau saya lihat, air terjun itu mirip gambar Air Terjun
Niagara,” kata Agus.
Hanya para pemberani yang bisa melihat air terjun tersebut. Sebab,
air terjun itu berada di tengah hutan liar. Namun, daerah itu menjadi
tempat petani mencari sumber air untuk sawahnya.
Di sore hari banyak pasangan lelaki dan perempuan turun dari hutan
dengan membawa rumput dan kayu bakar. Di sepanjang sungai, wisatawan
bisa turun ke sungai yang penuh batu dan berair jernih.
Jika ingin mendapatkan pilihan makanan sesuai dengan selera,
wisatawan bisa membawa bekal dari rumah dan makan di puncak bukit
sambil menikmati barisan bukit lain yang mengurungi. Ya, mungkin
seperti meneer atau mevrouw Belanda zaman dahulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s