curug cinulang

Curug Cinulang (Jawa Barat)

Curug Cinulang adalah sebuah obyek wisata alam berupa air terjun yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Garut, Jawa Barat. Walaupun letaknya di antara kedua kabupaten tersebut, tetapi secara administratif Curug Cinulang berada di Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Untuk dapat mencapai lokasi Curug Cinulang yang berjarak sekitar 38 kilometer ke arah timur dari Kota Bandung ini relatif mudah karena dapat melalui jalan tol Cipularang. Setelah melewati pintu tol Cileunyi diteruskan melalui jalan Bandung-Garut yang relatif ramai karena merupakan jalan yang menghubungkan kota-kota lain yang ada di sekitar pantai selatan Pulau Jawa. Pada saat sampai di sekitar kilometer 11 jalan Bandung-Garut terdapat sebuah papan petunjuk menuju ke lokasi wisata Curug Cinulang. Dari papan petunjuk ini jarak yang harus ditempuh masih sekitar 2,5 kilometer lagi ke arah timur.
Setelah sampai di pintu gerbang kawasan wisata Curug Cinulang, petugas setempat akan meminta bayaran sebesar Rp2.000,00 per orang sebagai tiket masuk dan apabila membawa kendaraan ditambah biaya lagi sebesar Rp1.000,00 per kendaraan. Namun bagi yang membawa kendaraan bermotor, setelah sampai di areal parkir, ada petugas lagi yang meminta jasa parkir sebesar Rp2.000,00 per kendaraan. Selanjutnya, dari areal parkir diteruskan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter hingga akhirnya sampai ke lokasi air terjun. Di sepanjang perjalanan menuju curug ini banyak ditemui warung-warung yang menjual makanan dan minuman maupun aksesoris khas tempat wisata.
Sesampai di lokasi, pengunjung dapat melihat dua buah air terjun yang ketinggiannya hampir sama. Air terjun yang pertama adalah air terjun “utama” yang aliran airnya deras. Sedangkan, air terjun lainnya yang merupakan pecahan dari air terjun pertama, letakknya sekitar 30 meter ke arah barat. Karena derasnya air yang mengalir di kedua air terjun ini, mengakibatkan jarang ada pengunjung yang berani berada didekatnya. Umumnya mereka lebih memilih bermain dengan jarak sekitar 5 meter dari kolam limpahan air atau menikmatinya dari jembatan yang melintasi Sungai Citarik (aliran air di bawah Curug Cinulang). Sebagai catatan, selain air terjun di kawasan wisata ini juga terdapat tempat bermain anak yang letaknya berada di atas bukit di seberang Sungai Citarik.

Curug Cinulang – Sumedang

Curug Cinulang mempunyai dua air buah terjun yang ketinggiannya hampir sama 50 m.  Air terjun yang pertama adalah air terjun ‘utama’ yang aliran airnya deras didampingi air terjun alin yang merupakan pecahannya dengan debit air yang lebih kecil.  Sedangkan, air terjun kedua berjarak 30 m ke arah barat dan mengalir dari dinding tebing yang berada di selatan.  Air terjun kedua ini tidaklah sebesar dan sederas air terjun pertama dengan ketinggian yang lebih sedikit lebih rendah sekitar 15 m.

citengah sumedang

CITENGAH, DARI “NIAGARA” SUMEDANG KE RUMAH BELANDA

CITENGAH, DARI “NIAGARA” SUMEDANG KE RUMAH BELANDA

Bukit yang  berhutan lebat itu menyimpan daya tarik. Mungkin
puluhan tahun lalu sepasang tuan dan nyonya Belanda  menghabiskan sore
di rumahnya dengan menatap bukit-bukit di sekelilingnya.
Rumah tersebut diperkirakan rumah orang Belanda, dilihatdari sisa
fondasi rumah, tegel, dan bata yang antik.
Fondasi rumah menunjukkan rumah tersebut  besar. Diperkirakan ada
tiga rumah Belanda di Bukit Margawindu tersebut. Bukit itu sudah sejak
lama memiliki perkebunan teh.
Menurut Ade, penampung pucuk teh yang  kini membangun rumah di
atas fondasi rumah Belanda itu, luas perkebunan teh mencapai 500
hektar, tetapi yang diusahakan rakyat hanya 150 hektar.
Penduduk mengelola perkebunan dengan menyewa lahan dari
desa sejak sekitar tahun 1994,
saat perkebunan itu ditinggalkan PT Cakra, pengelola sebelumnya.
Kini, di puncak bukit terdapat empat rumah. Seluruhnya milik Momoh
(73) dan anak-anaknya. Momoh adalah orang pertama yang memberanikan
diri tinggal di daerah ini tujuh tahun lalu.
“Awalnya saya lihat banyak sekali remaja dari Sumedang, Garut,
Jakarta, Cirebon, maupun Indramayu datang  camping di daerah itu.
Kadang cuma lima orang, tapi bisa juga  ratusan orang. Kalau Sabtu dan
Minggu puncak ini ramai sekali,” tutur Momoh.
Di daerah itu masih banyak binatang liar dari hutan di sekitarnya.
Hal ini menjadi  pesona wisata  tersendiri bagi para pemberani.
Selain itu, di daerah itu hanya
air terjun empat tingkat Cigorobog yang bisa dinikmati. Padahal,
menurut Agus (36), kepala dusun di Desa Citengah, ada 17 air terjun
lain di dalam hutan sekitar Citengah, yaitu Air  Terjun Kancana,
Ciparahu, Cisoka, dan Cimecek.
Air Terjun Cimecek memiliki ketinggian 25-30 meter, sedangkan Air
Terjun Ciparahu berbentuk huruf U.
“Kalau saya lihat, air terjun itu mirip gambar Air Terjun
Niagara,” kata Agus.
Hanya para pemberani yang bisa melihat air terjun tersebut. Sebab,
air terjun itu berada di tengah hutan liar. Namun, daerah itu menjadi
tempat petani mencari sumber air untuk sawahnya.
Di sore hari banyak pasangan lelaki dan perempuan turun dari hutan
dengan membawa rumput dan kayu bakar. Di sepanjang sungai, wisatawan
bisa turun ke sungai yang penuh batu dan berair jernih.
Jika ingin mendapatkan pilihan makanan sesuai dengan selera,
wisatawan bisa membawa bekal dari rumah dan makan di puncak bukit
sambil menikmati barisan bukit lain yang mengurungi. Ya, mungkin
seperti meneer atau mevrouw Belanda zaman dahulu.

kampung toga

Indahnya Kawasan Kampung Toga

Kawasan wisata Kampung Toga merupakan daerah wisata alam yang berada di perbukitan nan menjulang, berjarak sekitar 2 km dari pusat Kota Sumedang. Ada banyak hal yang bisa dilakukan disini, karena arena kegiatan melingkupi tiga aspek sekaligus: udara, darat dan air. Wisata disini cukup komprehensif sehingga banyak pilihan yang dijamin bakal memuaskan siapapun pengunjungnya.

Motto Kampung Toga ialah One Stop Adventure terasa sangat pas dan cocok mengingat memang pengunjung kampung wisata ini bisa beraktifitas di tiga tempat sebagaimana disebutkan diatas tadi. Untuk kegiatan di udara misalnya, pengunjung bisa mengikuti olah raga Paralayang dan Gantole, baik untuk pendidikan maupun sekedar rekreasi udara. Tersedia trainner profesional untuk para siswa yang ingin mengikuti pendidikan. Bagi yang ingin sekedar menikmati keindahan Kampung Toga tersedia Master Thundem. 

Dan untuk rekreasi keluarga di darat bisa dilakukan dengan menikmati suasana alam pegunungan, berjalan-jalan menikmati suasana pedesaan, naik sepeda gunung, atau melakukan kegiatan outbound lengkap dengan aneka fasilitas permainannya. Makanya disarankan ketika berkunjung kesini membawa serta keluarga (isteri dan anak paling tidak) supaya bisa merasakan suasana kegembiraan dan berkumpul secara bersama-sama yang sangat mungkin jarang Anda lakukan.

Sedangkan untuk fasilitas air yang tersedia adalah kolam renang dewasa dan anak-anak dengan nuansa pegunungan, pemancingan di danau buatan, serta arena untuk kegiatan Raffting (Arung Jeram). Bila Anda sudah merasa lelah dan lapar setelah melakukan kegiatan di Kampung Toga, singgahlah ke saung lesehan atau restoran bernuansa alam terbuka yang difasilitasi dengan iringan musik Sunda. Sambil bersantap pengunjung bisa menikmati pemandangan hamparan sawah dan pegunungan hijau.

Lokasi

Kampung Toga berada di Jalan Makam Cut Nyak Dien, Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Sumedang Selatan, Jawa Barat. Telp/Fax (0265) 206567.

Kampung Toga ( Sumedang )

Latar Belakang Kawasan Wisata Kampung Toga

Bagaimana cara membedah daerah gersang dan kurang produktif yang berada disekitar lereng perbukitan daerah Kabupaten Sumedang Jawa Barat untuk dijadikan Kawasan Wisata? Itulah awal gagasan yang terbesit dan tersirat pada tahun 1997 oleh seorang yang bernama Syamsudin., Drs., gelar kesarjanaannya didapat dari Uninus Bandung jurusan Ekonomi Pembangunan yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil selama 10 tahun dan tinggal di Sumedang, dirasakan masih sangat kurang adanya obyek wisata untuk dapat menarik pengunjung secara massal dalam satu tempat dengan segala fasilitas yang lengkap demi kepuasan para pengunjung.

Kabupaten Sumedang merupakan kota kecil yang dikelilingi bukit dan tidak terlalu jauh dari Ibukota Propinsi Jawa Barat, Bandung. Adalah sebuah potensi yang dapat dikembangkan sesuai dengan keberadaan Kabupaten Sumedang yang kaya akan keanekaragaman seni dan budaya serta alam pegunungan yang masih asri, ditunjang dengan Visi Kabupaten Sumedang menjadi daerah Agrobisnis dan Pariwisata serta Visi Pariwisata Kabupaten Sumedang mewujudkan daerah pariwisata Budaya dan pariwisata Lingkungan.

Gagasan Pariwisata

Berdasarkan potensi dan dukungan serta gagasan yang ada untuk mewujudkan Kabupaten Sumedang menjadi daerah tujuan wisata yang dapat diunggulkan. Bukan hanya sekedar membeli oleh-oleh spesifik Tahu dan terus pulang, tapi ada satu tempat bagi pengunjung yang dapat tinggal lebih lama untuk menikmati indahnya panorama alam Kabupaten Sumedang. Maka dicarilah lahan yang dapat dijadikan kawasan wisata dengan lokasi yang tidak terlalu jauh dari Kota atau Pusat Pemerintahan.

Pelaksanaan Gagasan

Sesuai hasil pertimbangan dan pengamatan lapangan, maka ditemukanlah areal lahan Desa seluas 16.25 Ha di Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan yang lokasinya hanya 2 km dari Pemda Sumedang dengan kondisi tanah tandus, gersang, sedikit pepohonan dan kekurangan sarana/prasarana baik jalan, air maupun listrik serta belum dimanfaatkan areal perbukitan secara optimal sebagai penghubung antara dusun di desa tersebut.

Dengan Kesepakatan Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan dan  PEMDA Sumedang serta ijin dari Pemda Propinsi Jawa Barat maka lahan tersebut di ruslag dengan Sawah Produktif dan penggantian lainnya yang bermanfaat bagi Desa dan masyarakat, maka dimulailah rencana pengembangan Kawasan Wisata tersebut dengan terlebih dahulu mengadakan survey dan studi banding ke daerah sekitar yang didukung penuh oleh Pemda Sumedang.

Konsep awal pengembangan kawasan wisata tersebut disesuaikan dengan kondisi dan lokasi kota Sumedang yang bernuansa pegunungan atau kembali ke alam. Dengan konsep tersebut maka dipersiapkan lahan yang tidak terlalu mengganggu kontur dan karakter tanah sehingga dibiarkan sesuai dengan kondisi alamnya.

Nama yang dipakai untuk kawasan wisata itu juga disesuaikan dengan situasi yang ada di kawasan wisata tersebut, yaitu Kawasan Wisata KAMPUNG TOGA yang berasal dari  kata KAMPUNG  Tanaman  Obat  KeluarGA atau apotik hidup, maka mulai ditanam berbagai tumbuh tumbuhan tanaman obat obatan dan berbagai pohon tanaman keras dengan ciri khas pohon Jambe, bersamaan dengan itu dibangun pula sarana dan prasarana yang dibutuhkan, penataan lahan terutama jalan utama masuk ke lokasi sepanjang 2 km, pengadaan  air sepanjang 8 km yang selain untuk kebutuhan Kampung Toga juga dapat dinikmati air bersih oleh 400 kepala keluarga di Dusun Pabuaran, Genteng, Kukulu, Cipari, Cihantap, Haur Lawang, Kubang, Desa Sukajaya serta fasilitas  listrik.

Lokasi

Lokasi KAMPUNG TOGA sekitar 2 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang, dengan ketinggian 650 DPL koordinat S 06.52.35.1, E 107.54.34.5 dengan nuansa perbukitan yang asri dan pemandangan kota Sumedang serta hamparan sawah dan sungai yang dapat dinikmati dengan wisata dirgantara yaitu Paralayang dan gantole.

Alamat Kampung Toga :
Jl. Makam Cut Nyak Dien Gn Puyuh Desa Sukajaya- Sumedang Selatan, Jawa Barat
Telp/Fax (0265)206567

Fasilitas

Setelah sembilan tahun dikembangkan mulai tahun 1997 sampai dengan tahun 2006 kawasan wisata KAMPUNG TOGA sudah tersedia berbagai fasilitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk para pengunjung, bahkan uasan lahan sudah mencapai 32 Ha.

Motto yang dipakai adalah ONE STOP ADVENTURE, dengan motto tersebut para pengunjung akan menikmati kegiatan beraneka ragam, baik kegiatan di udara, darat maupun air.

Di udara menikmati olah raga dirgantara berupa PARALAYANG dan GANTOLE  baik untuk pendidikan maupun untuk rekreasi udara, telah disiapkan Trainner yang berlisensi untuk para siswa yang akan megikuti pendidikan dan Master Thundem  untuk penumpang yang sekedar menikmati indahnya panorama KAMPUNG TOGA di udara.

Di darat berupa rekreasi keluarga dengan menikmati suasana alam pegunungan, jalan-jalan dengan suasana pedesaan, naik sepeda gunung, untuk kegiatan Outbound  lengkap dengan segala fasilitas dan permainannya, tersedia aneka makanan dan minuman ala Parahyangan, disajikan di saung lesehan dan restoran yang bernuansa alam terbuka, diiringi musik sunda terasa menikmati alam yang sebenarnya, panorama sawah yang terbentang luas, pegunungan yang hijau dan arsitektur bangunan yang mempunyai ciri khas panggung, kayu dan batu, tertata apik diantara perbukitan.

Di air ada kegiatan Raffting (Arung Jeram), Kolam Renang dewasa dan anak-anak dengan nuansa pegunungan serta pemancingan di danau buatan diatas bukit paling tinggi, atau sekedar mancing keluarga diatas perahu.



alam pangjugjugan

WISATA ALAM PANGJUGJUGAN DI CILEMBU – SUMEDANG

“Desa Wisata Alam Pangjugjugan adalah tempat bagi pengunjungnya untuk bisa bercengkrama dengan alam, bisa mendengar desau cemara, merasakan gemericik air dan gemulai ikan seraya melihat elang terbang dengan gagahnya di udara”, itu sepenggal kalimat yang ada di brosurnya, tapi memang kenyataannya seperti itu. Pertama masuk ke sana disapa dengan sopan oleh satpam dan penjaga tiket dengan sopan dengan logat sumedang  “Maaf pak beli tiket masuk dulu di sini, satu orang 5.000 parkir motornya  1.000”. Harga yang cukup murah memang untuk kantong masyarakat menengah ke bawah.
Setelah masuk anda akan ditunjukkan ke tempat parkir yang sangat luas serta pemandangan alam. Permainan cukup lengkap, cukup bayar  5.000 bisa mendapat  fasilitasnya playground, arena bermain anak, lesehan, terapi ikan, batu refleksi, curug, lapangan futsal, yang bayar kolam renang, flying fox, becak mini, tunggang kuda dan paparahuan.
Selain wisata alam ternyata ada ekowisata, bisa keliling kebun, peternakan ungas, kelinci, kambing, sapi perah dan sapi potong. Ada juga sekolah alam, outbond, pelatihan,  bahkan pemancingan juga ada. Untuk ekowisata tidak bayar lagi. “Kalau musim panen biasanya pengunjung memetik sendiri,  nanti dihitung sesuai hasil petiknya saja” kata ibu Desy Idayanti  staff HRD. “Di sini tempat yang paling murah, kumplit segala ada, mau acara apapun disini cocok, tempat wisata ini bisa jadi miniaturnya kumpulan tempat wisata lainnya.” ungkapnya pula.
 “Harga murah sesuai dengan kantong masyarakat menengah ke bawah tapi fasilitas sudah seperti tepat wisata yang harganya tinggi dan tempat masih alami serta fasilitas-fasilitas pendukung lainnya seperti mushola, MCK, tempat lesehan bersih-bersih” katanya.
Adapun pengunjung yang membawa keluarganya ke tempat ini seperti Pak Yayan datang ke Pangjugjugan merasa penasaran dengan harganya yang  murah, setelah beristirahat keliling Pangjugjugan dia istirahat dulu sambil makan di bawah sejuknya udara Cilembu, Pak Yayan berteduh di tempat LESEHAN yang berbentuk saung,  banyak sekali tempat lesehan yang bisa di pakai disini. Setelah habis makan pak Yayan beserta keluarga mencoba terapi ikan, puas dengan terapi ikan pak yayan dan keluarga main di tempat Arena Bermain, bahkan pak Yayan sendiri mencoba bermain egrang. “Saya memanfaatkan liburan panjang untuk mengajak keluarga ke sini, katanya bagus-bagus di sini, saya juga merasa puas dengan informasi yang diberikan saudara-saudara saya yang pernah datang ke sini” ungkap pak Yayan.
 Tak ada gading yang tak retak, kritikan maupun saran pasti akan diterima sebagai masukan untuk pengelola Taman Wisata Pangjugjugan, bahkan Ibu Desy sendiri menerima masukan  untuk kemajuan tempat ini, seperti ungkapan seorang pengunjung yang berbagi cerita ke Bobaronline “Tempat sudah Oke, permainan banyak, hanya kalau bisa dibuat sungai kecil yang mengalir supaya kesannya tidak gersang. Permainan di sini banyak yang gratis, cukup bayar 5.000 bisa menikmati permainan”

kampung nangorak

Wisata Agro Di Kampung Nangorak



Mungkin banyak yang kurang tahu bahwa sebenarnya di Sumedang juga mempunyai sebuah tempat yang asyik untuk rekreasi sekaligus juga tempat untuk mengenal lebih dekat tentang pengetahuan bercocok tanam dan beternak dengan keindahan alam yang menjanjikan. Duduk diantara semilir angin yang berhembus atau berjalan-jalan di kebun strawberry sambil memetik dan mencicipi buahnya yang manis. Melihat kebun melon yang ranum dan harum atau mengunjungi peternakan sapi perah…….semua ada di sini.

Inilah…..kawasan Agroteknobisnis Sumedang, sebuah tempat wisata agro yang terletak
di kampung Nangorak 6 km dari Alun-alun kota Sumedang. Terletak diketinggian antara 800-1000 meter dpl. Hanya memakan waktu kurang lebih dari satu jam perjalanan. Karena jalannya yang sempit dan terus menanjak, bahkan di beberapa tikungan jalan terlihat agak terjal maka haruslah ekstra hati-hati sebab jika tidak akan menyebabkan kecelakaan.

Namun begitu cukup mengasyikkan juga karena sepanjang perjalanan menuju tempat itu, pemandangan di sekitarnya tampak indah dan terlihat hijau oleh pertanian sawah yang membentang luas. Dari sini terlihat juga gunung Tampomas yang menjulang tinggi.

Ketika sampai ditempat lokasi kita hanya diwajibkan membayar tiket masuk yang hanya seribu rupiah saja, cukup murah bukan! Tempat wisata ini memang sangat luas. Karena didalamnya mencakup perkebunan, pertanian, budidaya tanaman dari 250 jenis tanaman dan pohon.

Dijamin pengunjung yang datang ke sini akan merasa betah dan nyaman. Apalagi jika sambil menikmati pemandangan alamnya yang indah dan angin sepoi-sepoi yang bikin mata mengantuk. Wuuiih…..nyaman sekali.

Dan bukan hanya itu, berjalan-jalan di kebun strawberry sambil memetik dan mencicipi buahnya yang terlihat merah ketuaan, hmm….yummmy bikin lidah jadi ngiler. Liburan pun akan terasa sangat menyenangkan.

Oh ya, ditempat ini juga terdapat rumah pohon lho, penasaran kan! Dan rumah pohon ini pun disewakan untuk umum. Asyik kan….yah seperti yang ada di film tarzan. Dan buat yang punya hobi memancing disini juga tersedia kolam pemancingan. Di lahan tertinggi dari kawasan agroteknobisnis ini yang berbatasan dengan hutan asli / premier juga dapat digunakan untuk camping

Hiking ke Curug Sabuk Sumedang 17 juni 2012

CURUG SABUK SUMEDANG
Curug Sabuk merupakan salah satu objek wisata alam di Kabupaten Sumedang yang bisa dibilang masih jarang dikunjungi.

Curug ini memiliki enam buah curahan air dengan ketinggian yang berbeda-beda.  Curahan tertinggi mencapai sekitar 70 meter

Lokasi

Terletak disekitar Taman Buru Gunung Masigit dan kawasan Gunung Kareumbi, tepatnya di Desa Nangorak. Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Aksesbilitas

Akses menuju lokasi curug cujup sulit dan jauh dimana harus berjalan kaki belasan kilometer, menembus belantara dan mengikuti arus balik sungai. Untuk menuju kesana dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam berjalan kaki dari pemukiman warga.

Akses menuju Curug Sabuk
Untuk menuju Curug sabuk kami berangkat pagi hari  dan yang menjadi target utama dusun nanggorak,sekitar jam 9 pagi sampai di dusun nanggorak.  Sesampainya di daerah Nangorak, perjalanan dilanjut dengan berjalan kaki untuk menuju Curug dengan jarak sekitar 4 km dan waktu tempuh kurang lebih 3 jam-an. Hamparan sawah luas dengan latar bukit-bukit serta langit yang cerah menyapa kedatangan kami di sana. Trek pertama yang harus kami lalui adalah jalan setapak di sisi sungai hingga kemudian memasuki hutan yang cukup rapat dengan jalan yang semakin menanjak.

Udara segar dan suara binatang penghuni hutan seperti burung, katak dan monyet menemani perjalanan kami. Hutan yang cukup terjaga dan jarang dirambah oleh warga mungkin cukup berpengaruh pada debit air serta kejernihan/kebersihan air sungai yang kami lewati. Pohon-pohon besar dan tinggi masih kami dapat temui di sana, pohon-pohon bambu yang sepertinya tidak pernah ditebang pun menjulang tinggi dengan ukuran yang besar dan berlumut tanda tak pernah dijamah. Selain itu terdapat pula beberapa pohon seperti pohon jengkol dan pohon hutan lainnya yang berbuah lebat di kawasan hutan tropis di sana.

Curug Sabuk

 

Semakin masuk ke dalam hutan, jalan yang kami lalui semakin beragam, dari tanjakan, turunan, melipir punggungan bukit hingga melewati aliran sungai. Setelah perjalanan yang cukup jauh dan tentunya membuat berkeringat, Alhamdulillah, akhirnya kami pun sampai di objek yang menjadi tujuan kami, yaitu Curug Sabuk. Di kawasan Curug sabuk tersebut terdapat sekitar 4 buah Curug yang indah, 2 Curug berukuran kecil dan 2 lainnya berukuran cukup besar dan jatuhan airnya yang cukup tinggi. 2 curug besar yang jaraknya berdekatan seperti Curug kembar. Air yang mengalir dari atas Curug bisa dikatakan bersih dan jernih (mungkin langsung dari mata air) serta dingin dan menyegarkan. Rasanya sudah tak sabar  tuk merasakan segarnya jatuhan air dari curug tersebut.
Untuk penamaan Curug Sabuk sendiri, menurut beberapa sumber yang penulis satubumikita baca diambil dari salah satu Curug yang menyerupai “Sabuk” (ikat pinggang), tapi pertanyaan penulis kenapa tidak dinamai saja “Curug Beubeur” (beubeur dalam bahasa sunda berarti sabuk). Ada pula pendapat seorang teman yang menurutnya kalau penamaan “Curug Sabuk” diambil dari jalan menuju Curug yang panjang dan melingkar seperti sabuk (ikat pinggang). Wallohualam.

Rasa lelah sepanjang perjalanan pun cukup terbayar dengan pemandangan yang indah terhadir di depan mata. Suara jatuhan air dengan situasi hutan yang tenang dan damai menambah indah suasana. Curug yang bisa dikatakan masih cukup alami ini memang mungkin jarang dikunjungi, terbukti dengan bersihnya kawasan curug dari sampah bekas makanan kemasan. Bisa jadi akses serta informasi yang kurang mengenai Curug sabuk menjadi Curug ini jarang dikunjungi, tapi lebih baik seperti itu, keaslian serta keasrian lingkungan sekitar dapat lebih terjaga karena jarangnya manusia yang berkunjung dan mengindarkan dari oknum serta tangan jahil yang suka mengotori/merusak objek-objek wisata alam.